Rabu, 13 Maret 2013

perangkap walang sangit


PRAKTIKUM IV

Judul               : PERANGKAP WALANG SANGIT
Tanggal           : 6 mei 2012
Alat                 :  Adapun alat yang digunakan dalam praktikum antara lain :
1.   Kayu
2.   Triplek
3.   Palu
4.   Gergaji
5.   Kamera
6.   Lem tikus
Bahan             : Adapun alat yang digunakan dalam praktikum antara lain :
1.   Bangkai udang
Cara Kerja    : Adapun cara kerja pada praktikum ini antara lain :
1.   Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.   Di potong kayu dan trpilek dengan ukuran yang ditentukan, kemudian dilekatkan dengan paku.
3.   Ditancapkan triplek tersebut kearea persawahan.
4.   Diolesi triplek dengan lem tikus, lalu diletakkan bangkai udang diatasnya.
5.   Diamati selama 2 jam, hewan apa saja yang terperangkap dan kemudian dicatat hasi pengamatannya.

Tinjauan Pustaka :
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Pengertian tentang PHT adalah perpaduan beberapa teknik pengendalian hama, dan juga dalam penerapannya. PHT timbul karena karena manusia cenderung untuk menghabiskan makhluk-makhluk yang dirasakan sangat merugikan (misal belalang, tikus, walang sangit, tikus dan lain-lain) dengan menggunakan racun-racun yang membahayakan semua kehidupan. . Salah satu hama yang banyak menyerang tanaman padi adalah walang sangit (Leptocorisa acuta) (Mardikanto, 1993).
Walang sangit (L. oratorius L) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna. Penyebaran hama ini cukup luas. Di Indonesia walang sangit merupakan hama potensial yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama penting dan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor per hektar dapat menurunkan hasil sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%. Hubungan antara kepadatan populasi walang sangit dengan penurunan hasil menunjukkan bahwa  serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil 27% Kwalitas gabah (beras) sangat dipengaruhi serangan walang sangit. Diantaranya menyebabkan meningkatnya Grain dis-coloration. Sehingga serangan walang sangit disamping secara langsung menurunkan hasil, secara tidak langsung juga sangat menurunkan kwalitas gabah (Baeheki, 1992).
Di lahan areal sawah petani dalam mengendalikan hama khususnya walang sangit menggunaan perangkap yaitu dari bahan udang yang dibusukkan. Dengan cara pengendalian tersebut intensitas kerusakan walang sangit dapat ditekan. Hasil pengamatan dilapang menunjukkan bahwa pengendalian dengan menggunakan perangkap bau busuk (udang) tersebut cukup efektif dibandingkan pengendalian lainnya  dalam  mengendalikan hama walang sangit. Adapun fungsi dari penggunakan perangkap dari bahan udang yang dibusukkan tersebut adalah untuk mengalihkan perhatian dari walang sangit  tersebut  karena dengan perangkap tersebut  walang sangit lebih  tertarik  berkunjung  ketempat  perangkap tersebut dibandingkan pada bulir padi. Pengandalian hama walang sangit dengan cara perangkap busuk tersebut yang dipasang ditepi-tepi sawah dengan jarak antar perangkap 10-15 m tersebut cukup efektif perangkap bau  busuk tersebut untuk makan dan mengisap cairannya. Walang sangit lebih tertarik kepada bau-bauan tersebut dibandingkan makan pada padi yang sedang berbunga sampai  matang susu (Borror, 1992).
Menurut Sunjaya (1970) banyak diantara jenis-jenis serangga tertarik oleh bau-bauan dipancarkan oleh bagian tanaman yaitu bunga, buah atau benda lainnya. Zat yang berbau tersebut pada hakekatnya adalah senyawa kimia yang mudah menguap seperti pada perangkan bau busuk tersebut. Dengan demikian intensitas kerusakan  bulir/biji  padi dapat  dihindari dengan cara perangkap bau tersebut. Dilihat dari lingkungan tidak mempengaruhi terutama keberadaan musuh alami (predator dan parasitoid) di lahan lebak tersebut. Dari hasil pengamatan terhadap musuh alami populasi predator jenis  laba-laba, kumbang karabit dan belalang minyak dan jenis parasitoid lainnya populasi cukup tinggi. Dan ada pula cara lain yaitu dengan menggunakan  obor dan asap tetapi hasilnya  kurang memuaskan, karena cara tersebut selain dapat menarik walang sangit tetapi juga dapat menarik serangga-serangga lain terutama jenis musuh alaminya ikut terbunuh. Adapun cara perangkap bau busuk tersebut bukan mematikan hama walang sangit tetapi, hanya mengalihkan perhatian sehingga dapat menghindari serangan hama tersebut pada padi.
Pengendalian Serangan walang sangit dapat dikendalikan dengan berbagai cara misalnya melakukan penanaman serempak pada  suatu daerah yang luas sehingga koloni walang sangit tidak terkonsentrasi di satu tempat sekaligus menghindari kerusakan yang berat. Pada awal fase generstif dianjurkan untuk menanggulangi walang sangit dengan  perangkap  dari tumbuhan rawa Limnophila sp., Ceratophyllum sp., Lycopodium sp. dan bangkai hewan : kodok, kepiting, udang dan sebagainya. Walang sangit yang tertangkap lalu dibakar. Parasit telur walang sangit yang utama  adalah Gryon  nixoni dan  parasit telur lainnya adalah Ooencyrtus malayensis (Baeheki, 1992).
Walang sangit dapat tertarik pada bau-bau tertentu seperti bangkai dan kotoran binatang, beberapa jenis rumput seperti Ceratophyllum dermesum L, C. Submersum  L, Lycopodium carinatum  D, dan Limnophila spp. Apabila walang sangit sudah terpusat pada tanaman perangkap, selanjutnya dapat diberantas secara mekanik atau kimiawi (Natawigena, 1990).
 Pengendalian kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida yang dianjurkan dan aplikasinya didasarkan pada hasil pengamatan. Apabila terdapat dua ekor walang sangit per meter persegi (16 rumpun) saat padi berbunga serempak sampai masaka susu, saat itulah dilakukan penyemprotan. Walang sangit dewasa dapat dikendalikan dengan insektisida monokrotofos. Insektisida yang efektif terhadap walang sangit adalah  BPMC dan MICP. Pengendalian secara biologi dengan beberapa penelitian telah dilakukan terutama pemanfaatan parasitoid dan jamur masih skala rumah kasa atau semi lapang.  Parasitoid yang mulai  diteliti adalah O. malayensis  sedangkan jenis jamurnya adalan Beauveria sp dan Metharizum sp  (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Menurut Baeheki (1992) Hama ini dapat dikendalikan melalui beberapa langkah, yaitu:
·       Mengendalikan gulma, baik yang ada di sawah maupun yang ada disekitar pertanaman.
·       Meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam.
·       Menangkap walang sangit dengan menggunakan jarring sebelum stadia pembungaan.
·       Mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam.
·       Menggunakan insektisida bila diperlukan dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.

Hasil dan Pembahasan         :
1.    Hasil
Gambar hasil pengamatan
Hama yang terperangkap
Keterangan







Hama walang sangit tidak ada yang terperangkap pada perangkap yang kami pasang, tetapi ada hama lain yang terperangkap pada perangkap yang dipasang dipetakan persawahan yaitu: Hama belalang.


2.    Pembahasan
           Dari hasil praktikum tentang perangkap walang sangit yang menggunakan bangkai udang dinyatakan gagal namun didapatkan serangga lain yaitu satu belalang yang terperangkap, sedangkan pada kelompok lain tidak hanya belalang tapi ada juga serangga lain yang terperangkap seperti lalat, nyamuk,  belalang,  semut  dan lain-lain. Praktikum ini dilakukan pada pengamatan yang terbatas yaitu waktu  pengamatan sekitar 2 jam pada tanaman padi yang masih berumur muda atau belum menghasilkan buah, jadi hasil yang kami dapatkan banyak ditemui seperti hama belalang dan jenis lalat yang ada disekitar areal sawah, sedangkan walang sangitnya tidak terlihat atau terperangkap.  Seperti yang diungkapkan Mudjiono (1991) Walang sangit (L. oratorius L) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna. Pada masa tidak ada pertanaman padi atau tanaman padi masih stadia vegetatif, dewasa walang sangit bertahan hidup/berlindung pada barbagai tanaman yang terdapat pada sekitar sawah. Setelah tanaman padi berbunga dewasa walang sangit pindah ke pertanaman padi dan berkembang biak satu generasi sebelum tanaman padi tersebut dipanen. Banyaknya generasi dalam satu hamparan pertanaman padi tergantung dari lamanya dan banyaknya interval tanam padi pada hamparan tersebut. Makin serempak tanam makin sedikit jumlah generasi perkembangan hama walang sangit.
Menurut Maspary (1990) ada hal yang perlu diperhatikan tentang hama walang sangit ini, yaitu bahwa hama ini memakan inangnya dengan cara menghisap. Walang sangit  menjadi hama pada tanaman padi ketika dia menghisap cairan yang berada di bulir padi. Oleh karena itu walang sangit akan menjadi hama ketika menyerang padi yang telah mulai masuk pada fase pengisian bulir. Lebih jelasnya bahwa walaupun ada walang sangit pada tanaman padi kita tetapi jika tanaman padi tersebut tidak dalam fase pengisian bulir maka walang sangit tersebut bukanlah hama dan tidak perlu kita kendalikan.
Hasil yang kami dapat yaitu belalang.  Seperti yang diungkapkan Moenandir (1990) Belalang merupakan spesies subtropis yang hidup mengelompok, yang berkembang biak dengan cepat pada awal musim hujan. Satu kawanan serangga jenis ini mampu menyerang 1200 kilometer persegi dalam satu  waktu dan setiap kilometer  perseginya  mencapai 40-80 juta belalang.  Belalang hidup bersendirian sehingga hujan turun. Hujan mengakibatkan tumbuhan tumbuh dan menggalakkan penghasilan telur yang telah dihasilkan dalam tanah berpasir. Tumbuhan baru ini menghasilkan makanan untuk belalang yang baru menetas dan memberikan mereka perlindungan sehingga mereka membesar menjadi serangga dewasa bersayap. Apabila tumbuhan tersebar dalam cara tertentu sehingga belalang terpaksa berkumpul untuk makan, dan terdapat hujan yang cukup untuk kebanyakan telur menetas, memaksa hubungan fizikal antara kaki belakang serangga bersentuhan sesama sendiri. Ini mengakibatkan peningkatan kadar metabolik dan perubahan tingkah-laku yang mengakibatkan perubahan serangga dari tingkah-laku bersendirian kepada tingkah-laku berkelompok (gregarious ). Apabila belalang menjadi berkelompok mereka bertukar warna dari hijau kepada hitam dan kuning, badan mereka berubah menjadi pendek, dan mereka menghasilkan hormon yang menyebabkan kesemua mereka berkumpul pada satu kawasan, dan menggalakkan pembentukan kawanan (Mudjiono, 1991).

Belalang menyerang tanaman padi pada bagian daun yang masih muda berumur 45 hari pada fase vegetatif. Alat mulut pada belalang menggigit dan mengunyah dicirikan dengan adanya mandibula yang berfungsi untuk memotong bahan makanan dan bersama bagian lain digunakan untuk mengunyah makanan. Pada bagian tanaman padi yang diserang hama belalang akan ditandai bekas gigitan dan pertumbuhan menjadi terhambat. Mikrohabitat belalang terdapat pada bagian daun dari tanaman padi yang masih muda (Borror, 1992).
Walang  sangit adalah salah satu hama utama padi. Hama ini biasanya tertarik pada nyala obor atau lampu. Selain itu, walang sangit juga menyukai bangkai binatang seperti bangkai burung, ketam,  tikus dan udang. Keberadaannya dapat diketahui dengan adanya bau khas yang tersebar. Pengendalian walang sangit ini dilakukan secara mekanis yaitu dengan menggunakan perangkap. Walang sangit juga dapat menyerang sorgum, tebu, dan gandum. Serangga ini aktif pada pagi dan sore hari, dan dapat terbang sangat jauh pada malam hari (Natawigena, 1990).
Seperti yang diungkapkan Baehaki (1992) Sebelum tanaman padi ditanam atau  pada saat padi dalam masa vegetatif, imago dapat bertahan hidup pada gulma dan tumbuhan yang ada disekitar sawah. Imago walang sangit  baru mulai pindah setelah tanaman padi berbunga. Nimfa dan imago menghisap bulir padi pada fase matang susu. Serangga ini juga dapat menghisap cairan batang padi. Tidak seperti kepik lain, walang sangit tidak melubangi bulir padi pada waktu menghisap, tetapi menusuk melalui rongga di antara lemma dan palea. Nimfa lebih aktif dari pada imago, tetapi imago dapat merusak lebih hebat karena hidupnya yang lebih lama.
Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi menjadi mengecil tetapi jarang yang menjadi hampa karena walang sangit tidak dapat mengosongkan seluruh isi biji yang sedang tumbuh. Jika bulir yang matang susu tidak tersedia, walang sangit juga masih dapat menyerang atau menghisap bulir padi yang mulai mengeras dengan cara mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat. Dalam prosesnya walang sangit mengkontaminasi biji dengan mikroorganisme yang dapat mengakibatkan biji berubah warna dan rapuh. Kerusakan dalam fase ini lebih bersifat kualitatif. Pada proses penggilingan, bulir-bulir padi akan rapuh dan mudah patah. Walang sangit juga bisa menjadi vektor patogen  Helminthosporium oryzae (Rismunandar, 2003).
Menurut Rukmana dan Sugandi (1997) kehidupan dan perkembangan serangga hama tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor, meliputi faktor dalam yang dimiliki jenis serangga itu sendiri dan faktor luar yaitu kondisi lingkungan tempat serangga hama melakukan aktivitasnya. Faktor dalam kondisi lingkungan meliputi kemampuan berkembang biak, sifat mempertahankan diri dan umur imago. Sedangkan faktor luar kondisi lingkungan meliputi iklim (suhu), kelembaban, cahaya, curah hujan dan angin.

Kesimpulan    :
Dari praktikum yang kami lakukan tentang perangkap walang sangit (L. oratorius L) yang didapat adalah hama belalang. Walang sangit merupakan hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna. Pada masa tidak ada pertanaman padi atau tanaman padi masih stadia vegetatif, dewasa walang sangit bertahan hidup/berlindung pada barbagai tanaman yang terdapat pada sekitar sawah.
Daftar Pustaka :

Baeheki. 1992. Laporan Praktikum Perangkap Walang Sangit. Online. http://www.scribd.com/doc/42591407/Laporan-Praktikum-Ilmu-Hama-Tanaman. Diakses 8 Juni 2012.

Borror. 1992. Cara Mengendalikan Hama Walang Sangit. Online.  http://www.gerbangpertanian.com/2011/05/cara-mengendalikan-hama-walang-sangit.html. Diakses 8 Juni 2012.
Mardikanto. 1970.Walang Sangit. Online. http://riostones.blogspot.com/2009/08/walang-sangit-leptocorisa-acuta.html. Diakses 7 Juni 2012.
Moenandir dan Natawigena. 1990. Laporan Praktikum Walang Sangit. Online. http://wanty-pristiarini.blogspot.com/2012/01/laporan-8.html. Diakses 8 Juni 2012.
Mudjiono. 1991. Cara Mengendalikan Hama. Online. http://www.gerbangpertanian.com/2011/05/cara-mengendalikan-hama-walang-sangit.html. Diakses 8 juni 2012.
Rismunandar. 2003. Gejala Hama Walang Sangit. Online.http://nusantarastore.com/herbal-samarinda/search/gejala-gejala-hama-walang-sangit. Diakses 8 Juni 2012.
Sugandi. 1997.Pengendalian Walang Sangit. Online. http://dolpina.wordpress.com/2011/03/09/pengendalian-walang-sangit. Diakses 8 Juni 2012.
Sunjaya, P.I. 1970. Dasar-Dasar Serangga. Bagian Ilmu Hama Tanaman Pertanian. IPB.Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar