Jumat, 15 Juni 2012

Keanekaragaman Arthropoda Pada Permukaan Tanah Di Perkebunan Sawit Provinsi Jambi Sumsel


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula) (Anwar, 2006).
Perkebunan kelapa sawit di Desa Tirtakencana di provinsi Jambi adalah salah satu provinsi paling ekspansif mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Pengembangan kelapa sawit memang menjadi bagian strategi jambi menggerakkan perekonomian derahnya Jambi telah mencanangkan pengembangan sawit sejuta hektar dengan luas Jambi yang hanya 5,4 juta hektar berarti hampir 20% wilayah Jambi akan berubah menjadi perkebunan sawit. Namun dapat dibayangkan bahwa rencana itu selalu dibayang-bayangi oleh resiko yang cukup pelik. Harus diakui bahwa akan selalu terjadi tekanan lingkungan yang tinggi dalam pengembangan sawit karena dilakukannya konversi hutan (Andoko, 2008).
Perkebunan Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan yang dapat menjadi tempat hidup antrhropoda di permukaan tanah baik untuk tempat tinggal, mencari makan dan berkembang biak. Seperti dari pengamatan telah ditemukan antrhopoda dipermukaan tanah seperti semut, laba-laba, belalang, ulat buah dan jangkrik. Kehidupan anthropoda sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaanya dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah sangat ditentukan daerah itu dan faktor lingkungan. Dalam ekologi hewan tanah, pengukuran faktor lingkungan abiotik penting dilakukan karena besarnya pengaruh fkctor abiotik itu terhadap keberadaan dan kepadatan populasi kelompok hewan tanah. Dengan dilakukannya pengukuran faktor lingkungan abiotik, maka dapat diketahui faktor yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan dan kepadatan populasi hewan yang diteliti (Syarif, 1986).
Arthropoda permukaan tanah memiliki peranan yang penting dalam ekosistem pertanian, Arthropoda permukaan tanah berperan dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor. Selain itu juga dapat merugikan dan menguntungkan bagi kehidupan manusia. Selain berperan dalam jaring makanan, Arthropoda permukaan tanah juga berperan dalam proses dekomposisi tanah. Arthropoda permukaan tanah akan mengahancurkan substansi yang ukurannya lebih besar menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga proses dekomposisi dapat dilanjutkan oleh fauna tanah yang lain (Odum, 1993).
Teknik budidaya pertanian umumnya menurunkan jumlah individu dan deversitas fauna tanah termasuk Arthropoda permukaan tanah. Selain itu, kegiatan budidaya pertanian dapat merubah kondisi tanah. Oleh karena itu, penelitian dibutuhkan untuk memperoleh informasi tentang keanekaragaman dan kemerataan Arthropoda permukaan tanah sehingga dapat diketahui tingkat kestabilan ekosistem pada lahan perkebunan sawit dan faktor abiotik yang paling mempengaruhi keanekaragaman Arthropoda permukaan tanah pada lahan perkebunan sawit (Arief, 2001).

1.2    Tujuan
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan mengkaji keanekaragaman Arthropoda yang hidup pada permukaan tanah di perkebunan sawit (Elaeis guineensis), di Desa Tirtakencana Provinsi Jambi Sumatera Selatan.

1.3    Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana keanekaragaman Arthropoda yang terdapat pada permukaan tanah di perkebunan sawit, di Desa Tirtakencana  Provinsi Jambi Sumatera Selatan.

1.4    Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada tanaman Sawit yang berumur ± 8 tahun, dan arthropoda yang diteliti pada permukaan tanah  di perkebunan sawit (Elaeis guineensis) seluas satu hektar, di Desa Tirtakencana Provinsi Jambi Sumatera Selatan.

1.5    Manfaat
Manfaat dari penelitian ini yaitu agar dapat memberikan informasi akademik dan tambahan bagi masyarakat serta wawasan kepada kita semua mengenai keanekaragaman arthropoda di permukaan tanah perkebunan sawit, di Desa Tirtakencana Provinsi Jambi Sumatera Selatan.

1.6  Hipotesis
Diduga terdapat berbagai macam keragaman arthropoda pada permukaan tanah pada perkebunan kelapa sawit.


BAB II
TINAJUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Arthropoda
Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda. Karakteristik yang membedakan artropoda dengan filum yang lain yaitu : Tubuh bersegmen, segmen biasanya bersatu menjadi dua atau tiga daerah yang jelas, anggota tubuh bersegmen berpasangan (Asal penamaan Arthropoda), simetri bilateral, eksoskeleton berkitin. Secara berkala mengalir dan diperbaharui sebagai pertumbuhan hewan, kanal alimentari seperti pipa dengan mulut dan anus, sistem sirkulasi terbuka, hanya pembuluh darah yang biasanya berwujud sebuah struktur dorsal seperti pipa menuju kanal alimentar dengan bukaan lateral di daerah abdomen, rongga tubuh; sebuah rongga darah atau hemosol dan selom tereduksi (Donahue dkk, 1977).
Arthropoda memiliki empat kelas, diantaranya yaitu :
1.     Kelas Myriapoda.
2.     Kelas Crustacea.
3.     Kelas Arachnida.
4.     Kelas Insecta.
Kelas Arachnoidea dikenal sebagai laba-laba. Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja. Kala jengking adalah salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies. Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm. Arachnoidea merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit. Arachnoidea yang hidup bebas bersifat karnivora. Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Arachnida, dan Acarina. Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen terakhir, contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng ( Buthus after). Pada Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat sengat), contoh hewan ini adalah Laba-laba serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan (Nephila maculata). Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, contohnya adalah caplak atau tungau (Acarina sp.) (Foth, 1998).
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan hewan berkaki banyak. Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan sekitar kita. Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu. Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan abdomen. Tubuhnya memanjang seperti cacing.
Pada kaput terdapat antena, mulut, dan satu pasang mandibula (rahang bawah), dua pasang maksila (rahang atas), dan mata yang berbentuk oseli (mata tunggal). Tubunya bersegmen dengan satu hingga dua pasang anggota badan pada tiap segmennya. Setiap segmen terdapat lubang respirasi yang disebut spirakel yang menuju ke trakea. Ekskresinya dengan tubula malpighi. Myriapoda bersifat dioseus dan melakukan repsroduksi seksual secara internal. Myriapoda dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Chilopoda dan Diplopoda.
Kelas Chilopoda dikenal sebagai kelabang. Kelompok hewan ini dikenal sebagai kelabang.Tubuhnya memanjang dan agak pipih. Pada kepalanya terdapat antena dan mulut dengan sepasang mandibula dan dua pasang maksila. Pada tiap segmen tubuhnya terdapat kaki dan sepasang spirakel. Pasangan pertama kaki termodifikasi menjadi alt beracun. Alat penyengat digunakan unutk menyengat musuh atau pengganggunya. Sengatannya menimbulkan bengkak dan rasa sakit. Contoh hewan ini adalah kelabang (scutigera sp.).
Kelas Diplopoda dikenal dengan kaki seribu. Hewan pada ordo ini dikenal dengan kaki seribu, meskipun jumlah kakinya bukan berjumlah seribu. Ada yang menyebutkan nama lain seperti keluwing. Tubuhnya bulat panjang. Mulutnya terdiri dari dua pasang maksila dan bibir bawah. Pada tiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan dua pasang spirakel. Diplopoda tidak memiliki cakar beracun karenanya hewan ini bersifat hebivora atau pemakan sisa organisme. Gerakkan hewan ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang. Bila terganggu hewan ini akan menggulungkan tubuhnya dan pura-pura mati. Contoh hewan ini adalah kaki seribu (lulus sp.).
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang keras. Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini. Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat. Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca dan Malacostraca.
Entomostraca adalah crustacea yang berukuran mikroskopik, hidup sebagai zooplankton atau bentos di perairan, dan juga ada yang sebagai parasit.Contoh hewan ini adalah Daphnia, Cypris virens, dan Cyclops sp.
Malacostraca dikenal sebagai lobster. Malacostraca adalah crustacea yang berukuran lebih besar dari pada entomostraca. Hewan yang termasuk kelompok ini adalah Udang, lobster, dan kepiting. Berikut akan dibahas sedikit mengenai urain hewan kelompok satu ini. Udang memiliki ekssoskeleton yang keras untuk melindungi tubuhnya. Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu kaput dan toraks yang menyatu membentuk sefalotoraks, serta abdomen. Dibagian sefalotoraks dilindungi oleh eksoskeleton yang keras berupa karapaks. Karapaks memiliki duri di ujung anterior yang disebut rostrum. Di dekat rostrum terdapar mata faset ( majemuk) yang bertangkai. Pada kaput sefalotoraks merupakan penyatuan lima segmen (Donahue dkk, 1977).
Kupu-kupu dikenal sebagai Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga). Banyak anggota hewan ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang dan lebah. Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah. Karena itu pula sering juga disebut hexapoda. Insecta dapat hidup di bergagai habitat, yaitu air tawar, laut dan darat. Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok invertebrata yang dapat terbang.Insecta ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit. Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kaput, toraks, dan abdomen. Kaput memiliki organ yang berkembang baik, yaitu adanya sepasang antena, mata majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli).Insecta memiliki organ perasa disebut palpus.

2.2 Hewan Tanah dan Faktor lingkungan
Struktur tanah menunjukkan kombinasi atau susunan partikel-partikel tanah primer (pasir, debu, dan liat) sampai pada partikel-partikel sekunder yang disebut juga agregat. Struktur suatu horizon yang berbeda satu profil tanah merupakan satu ciri penting tanah, seperti warna tekstur atau komposisi kimia. Struktur mengubah pengaruh tekstur dengan memperhatikan hubungan kelembaban udara. Bahan organik merupakan sebuah bahan utama pewarnaan tanah tergantung pada keadaan alaminya, jumlah dan penyebaran dalam profil tanah tersebut. Bahan organik biasanya tertinggi di lapisan permukaan tanah di daerah sedang warna permukaan tanahnya agak gelap (Foth, 1998).
Hewan tanah merupakan hewan yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang dalam tanah. Dengan demikian kehidupan hewan tanah sangat ditentukan oleh faktor fisika tanah, karena itu dalam mempelajari ekologi hewan tanah faktor fisika kimia tanah selalu diukur (Muhammad, 2003).
Faktor fisika dan kimia tanah yang menentukan komposisi dan kerapatan serangga permukaan tanah disuatu tempat adalam pH, suhu, kelembaban, makanan, cahaya, tektstur tanah dan kadar organik tanah, sengga terjadi kelimpahan serangga tanah (Odum, 1996).
Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di lakukan langsung di lapangan dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan contoh tanah dan dibawa ke laboraturium (Muhammad, 2003).
Suhu tanah yang merupakan salah satu contoh faktor fisika tanah mengalami perubahan dari pengembunan secara terus menerus pada kedalaman yang dangkal di banyak tanah di daerah Alaska yang beku sampai ke Hawai yang tropis, dimanapun jarang ditemukan suhu tanah dapat mencapai 1000F (37,80 C) pada hari yang panas sekalipun. Pada kebanyakan permukaan bumi, suhu tanah harian jarang mengalami perubahan pada kedalaman 20inchi (51 cm). tapi dibawah kedalaman tersebut suhu tanah akan mengalami perubahan yang secara lambat menunjukkan pertambahan derajat suhu sekitar 20F (Donahue dkk, 1977).
Partikel tanah berbeda-beda ukurannya. Berdasarkan ukurannya maka partikel tanah digolongkan atas fraksi pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah adalah perbandingan antara partikel tanah yang berupa liat, debu, dan pasir dari suatu massa tanah (Muhammad, 2003).
Tanah yang mempunyai tekstur halus mempunyai luas permukaan besar dibanding dengan tanah yang bertekstur kasar. Oleh karena itu, tanah yang demkian ini cepat melapuk. Beberapa sifat tanah yang lain, seperti kandungan bahan organik, unsur hara, aerasi dan lain-lain, seperti kandungan bahan organik mempunyai hubungan yang erat dengan tekstur tanah. Penentuan tekstur tanah di laboratorium dilakukan dengan cara analisis mekanis. Partikel-partikel tanah diaduk dalam air dan diberi bahan-bahan yang menghilangkan perekat-perekat dalam tanah. Partikel liat yang mempunyai luas permukaan relatif besar dalam satu-satuan volume tertentu akan mengendap dalam waktu yang lama, sedangkan partikel-partikel pasir lebih cepat mengendap karena luas permukaannya relatif kecil (Buckman dan Brady, 1982).
Dilapangan hewan tanah juga dapat dikumpulkan dengan cara memasang perangkap jebak (pit fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada pengumpulan hewan tanah secara dinamik. Perangkap jebak sangat sederhana, yang mana hanya berupa bejana yang ditanam di tanah. Agar air hujan tidak masuk ke dalam perangkap maka perangkap diberi atap dan agar air yang mengalir di permukaan tanah tidak masuk ke dalam perangkap maka perangkap dipasang pada tanah yang datar dan agak sedikit tinggi. Jarak antar perangkap sebaliknya minimal 5 m.
Perangkap jebak pada prinsipnya ada dua macam, yaitu perangkap penjebak tanpa umpan penarik, dan perangkap penjebak dengan umpan. Pada perangkap tanpa umpan, hewan tanah yang berkeliaran di permukaan tanah akan jatuh terjebak, yaitu hewan tanah yang kebetulan menuju ke perangkap itu, sedangkan perangkap dengan umpan, hewan yang terperangkap adalah hewan yang tertarik oleh bau umpan yang diletakkan di dalam perangkap, hewan yang jatuh dalam perangkap akan terawat oleh formalin atau zat kimia lainnya yang diletakkan dalam perangkap tersebut (Muhammad, 2003).
            Menurut Hole (1981) macam-macam hewan tanah diantaranya adalah sebagai berikut :
1.       Pengelompokkan hewan tanah berdasarkan kehadiran
·       Permanen yaitu hewan tanah yang seluruh daur hidupnya berada tanah, contohnya cacing tanah dan collembolan.
·       Sementara yaitu binatang tanah yang salah satu fase hidupnya berada ditanah, sedangkan fase lainnya tidak atau secara berkala ditanah, contohnya larva serangga.
·       Periodik yaitu binatang-binatang tanah yang sering berpindah-pindah masuk dan keluar dari tanah, contohnya bentuk-bentuk aktif serangga.
·       Mendiami sementara yaitu fase inaktif (telur, pupa, fase hibernasi) berada di tanah dan fase aktif berada diatas tanah, contohnya serangga.
·       Kebetulan yaitu binatang yang jatuh atau tertiup angin dari tajuk dan masuk kedalam tanah, contohnya larva serangga.
2.   Pengelompokkan hewan tanah berdasarkan tempat hidup pada lapisan tanah
·       Epigon yaitu hewan tanah yang hidup pada lapisan tumbuhan-tumbuhan dipermukaan tanah.
·       Hemiedafon yaitu hewan tanah yang hidup pada organik tanah.
·       Euedafon yaitu yang hidup pada lapisan mineral tanah.
3.       Pengelompokkan hewan tanah berdasarkan jenis makanan atau cara makan
·     Microphytic feeders merupakan binatang pemakan tumbuhan mikro, seperti lumut dan spora.
·     Saprophytic feeders merupakan pemakan bahan organik (serasah segar, setengah segar dan bahan organic yang telah melapuk), contohnya cacing tanah, miliapoda, isopoda, acarina dan collembolan.
·     Phytophagous merupakan binatang pemakan tumbuhan, contohnya molusca dan larva Lepidoptera dan jangkrik.
·     Carnivore merupakan kelompok predator (pemakan binatang tanah), contohnya carabidae, staphylinidae, kalajengking, centipede.
4.   Pengelompokkan hewan tanah berdasarkan mempengaruhi system tanah
·       Binatang eksopedonik (mempengaruhi dari luar tanah), golongan ini mencakup binatang-binatang berukuran besar, seperti kelas mamalia, aves, reptilian dan amphibian.
·       Binatang endopedonik (mempengaruhi dari dalam tanah), golongan ini mencakup binatang-binatang kecil sampai sedang, seperti kelas hexapoda, myriapoda, arachnida, crustacean, tardigrada.

2.3 Peranan Tanah
Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan kesuburan tanah adalah fauna tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah. Makrofauna tanah  mempunyai  peranan  penting  dalam  dekomposisi  bahan  organik  tanah  dalam penyediaan unsur hara. Makrofauna akan  meremah-remah substansi nabati yang mati, kemudian  bahan  tersebut  akan  dikeluarkan  dalam  bentuk  kotoran.  Secara  umum, keberadaan aneka macam fauna tanah pada  tanah yang tidak terganggu seperti padang rumput, karena siklus hara berlangsung  secara kontinyu. Terdapat suatu peningkatan nyata pada siklus hara, terutama nitrogen pada lahan-lahan yang ditambahkan mesofauna tanah sebesar 20%-50% (Wallwork, 1976).
Menurut Barnes (1997) Fauna tanah memainkan peranan yang sangat penting dalam pembusukan zat atau bahan-bahan organik dengan cara :
1.   Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersediaan daerah bagi aktifitas bakteri dan jamur,
2.   Melakukan pembusukan pada bahan pilihan  seperti gula, sellulosa dan sejenis lignin,
3.   Merubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus,
4.   Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas,
5.   Membentuk kemantapan agregat antara bahan organik dan bahan mineral tanah.
Meskipun fauna tanah khususnya mesofauna tanah sebagai penghasil senyawa- senyawa organik tanah dalam ekosistem tanah, namun bukan berarti berfungsi sebagai subsistem produsen. Tetapi, peranan ini merupakan nilai tambah dari mesofauna sebagai subsistem  konsumen  dan  subsistem  dekomposisi.  Sebagai  subsistem  dekomposisi, mesofauna  sebagai  organisme  perombak  awal  bahan  makanan,  serasah,  dan  bahan organik lainnya (seperti kayu dan akar) mengkonsumsi bahan-bahan tersebut dengan cara melumatkan  dan  mengunyah  bahan-bahan  tersebut.  Mesofauna  tanah  akan  melumat bahan dan mencampurkan dengan sisa-sisa  bahan organik lainnya, sehingga menjadi fragmen berukuran kecil yang siap untuk didekomposisi oleh mikrobio tanah (Arief, 2001).
 Tarumingkeng  (2000),  menyebutkan  bahwa  dalam  suatu  habitat  hutan  hujan tropika diperkirakan, dengan hanya memperhitungkan serangga sosial (jenis-jenis semut, lebah  dan  rayap),  peranannya  dalam  siklus  energi  adalah  4  kali  peranan  jenis-jenis vertebrata. Organisme-organisme yang berkedudukan di dalam tanah sanggup mengadakan perubahan-perubahan besar di dalam tanah, terutama dalam lapisan atas (top soil), di mana terdapat akar-akar tanaman dan perolehan bahan makanan yang mudah. Akar-akar tanaman yang mati dengan cepat dapat dibusukkan oleh fungi, bakteria dan golongan- golongan organisme lainnya (Sutedjo dkk, 1996).
Serangga pemakan bahan organik yang mambusuk, membantu merubah zat-zat yang  membusuk  menjadi  zat-zat  yang  lebih  sederhana.  Banyak  jenis  serangga  yang meluangkan  sebagian  atau  seluruh  hidup  mereka  di  dalam  tanah. Tanah  tersebut memberikan serangga suatu pemukiman atau sarang, pertahanan dan seringkali makanan. Tanah tersebut diterobos sedemikian rupa sehingga tanah menjadi lebih mengandung udara, tanah juga dapat diperkaya oleh hasil ekskresi  dan tubuh-tubuh serangga yang mati. Serangga tanah memperbaiki sifat  fisik tanah dan menambah kandungan bahan organiknya,  bahwa serangga tanah juga  berfungsi sebagai  perombak  material tanaman  dan  penghancur  kayu (Wallwork, 1976).
Szujecki (1987) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan serangga tanah di hutan, adalah: 1) struktur tanah berpengaruh pada gerakan dan   penetrasi;   2)   kelembaban   tanah   dan   kandungan hara   berpengaruh   terhadap perkembangan dalam daur hidup; 3) suhu tanah mempengaruhi peletakan telur; 4) cahaya dan tata udara mempengaruhi kegiatannya.
Suhardjono  (2000),  menyebutkan  pada  sebagian  besar  populasi Collembola tertentu,  merupakan  pemakan  mikoriza   akar  yang  dapat  merangsang pertumbuhan simbion dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Di samping itu, Collembola juga dapat berfungsi menurunkan kemungkinan timbulnya penyakit yang disebabkan oleh jamur. Collembola  juga  dapat  dijadikan  sebagai   indikator terhadap  dampak  penggunaan herbisida. Pada tanah yang tercemar oleh herbisida jumlah Collembola yang ada jauh lebih sedikit dibandingkan pada lahan yang tidak tercemar. Keanekaragaman  fauna  tanah  pada  musim  atau  tipe  permukaan  tanah  yang berbeda memiliki perbedaan.

2.4 Klasifikasi dan Morfologi Kelapa Sawit
2.4.1 Klasifikasi Kelapa Sawit
            Klasifikasi ilmiah dari kelapa sawit
Kerajaan         : Plantae
Divisi              : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Ordo                : Arecales
Famili             : Arecaceae5
Genus                : Elaeis Spesies
Elaeis guineensis, Elaeis oleifera

2.4.2 Morfologi Kelapa Sawit
Morfologi tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1. Bagian Generatif
Bagian generatif kelapa sawit meliputi akar, batang, dan daun. Akar kelapa sawit berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah dan respirasi tanaman. Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tertier, dan kuarter. Kelapa sawit merupakan tanaman monokotil, yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang berfungsi sebagai penyangga serta tempat menyimpan dan mengangkut makanan. Daun kelapa sawit membentuk susunan majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar. Daun sebagai tempat fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Semakin lama proses fotosintesis berlangsung, semakin banyak bahan makanan yang dibentuk sehingga produksi meningkat. Luas permukaan daun juga mempengaruhi proses fotosintesis, semakin luas permukaan daun maka proses fotosintesis akan semakin baik ( Fauzi, 2004).
2. Bagian Vegetatif
Bagian vegetatif kelapa sawit meliputi bunga dan daun. Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (monoecious) artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing – masing terangkai dalam satu tandan. Proses penyerbukan tanaman kelapa sawit dapat terjadi dengan bantuan serangga atau angin. Buah disebut juga fructus, tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan buah siap panen pada umur 3,5 tahun. Buah terbentuk setelah terjadi penyerbukan dan pembuahan. Waktu yang dibutuhkan mulai dari penyerbukan sampai buah matang dan siap panen kurang lebih 5 – 6 bulan (Fauzi, 2004).

2.5 Ekologi Kelapa Sawit
Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis. Curah hujan optimal yang dikehendaki antara 2.000 – 2.500 mm per tahun dengan pembagian merata sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari yang optimum antara 5 – 7 jam per hari, dan suhu optimum berkisar 22º - 32ºC. Ketinggian di atas permukaan laut yang optimum berkisar 0 – 500 meter.
Kelapa sawit menghendaki tanah yang subur, gembur, memiliki solum yang tebal, tanpa lapisan padas, datar dan drainasenya baik. Keasaman tanah (pH) sangat menentukan ketersediaan dan keseimbangan unsur – unsur hara dalam tanah. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4 – 6,5 sedangkan pH optimum berkisar 5 – 5,5. Permukaan air tanah dan pH sangat erat kaitannya dengan ketersediaan hara yang dapat diserap oleh air (Risza, 1994).


BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012. Lokasi penelitian dilakukan di perkebunan Sawit, Provinsi Jambi Sumatera selatan. Identifikasi hewan dari hasil penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Universitas Biologi Fakultas MIPA PGRI Palembang.

3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, aqua plastic, cengkuit label, kaca objek, kayu, kawat, paku, kotak sampel, mikroskop dan seng. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu alcohol 70 % dan formalin 4 %.

33. Metode Kerja
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan observasi dengan pengamatan langsung dilapangan. Sampel arthropoda dipermukaan tanah diambil dengan menggunakan metode perangkap jebak (Pitfall-trap), teknik pengambilan sampel secara Porposive sampling diperkebunan Sawit yang berumur ± 8 tahun seluas 1 hektar dengan jumlah tanaman ± 800 pohon sawit. Sebanyak 25 perangkap jebak disebarkan secara acak dengan jarak 5 meter.

3.4 Cara Kerja
3.4.1 Di Lapangan
Adapun cara kerja pada penelitian ini antara lain :
1.     Disiapkan alat dan bahan yanag akan digunakan.
2.     Ditanam perangkap yang sudah dibuat dari aqua plastik sedalam 12 cm.
3.     Dibuat penyanggah dan ditutup dengan seng untuk menghindari hujan dan organism lain.
4.     Dimasukkan alcohol 70 % dan formalin 4 % atau sebanyak 3 tetes.
5.     Dibiarkan perangkap yang ditanam pada jam 6 pagi selama 3 x 24 jam dengan tujuan agar hewan pada permukaan tanah yang beraktivitas pada siang hari dan malam hari bisa masuk dalam perangkap.
6.     Setelah hewan-hewan yang masuk kedalam perangkap diambil dan dimasukkan dalam kotak sampel yang diisi alcohol dan formalin.
7.     Diamati di laboratorium.
3.4.2 Di Laboratorium
Adapun cara kerja penelitian ini antara lain :
1.   Di identifikasi hewan-hewan yang didapat dari Lapangan di laboratorium menggunakan buku acuan Bolton (1994) dan Wilson (1990).
2.   Dikeringkan hewan-hewan dari tiap spesies yang didapat dan ditempel dikertas karton yang telah ditusuk jarum, kemudian dimasukkan kedalam kotak spesimen.
3.   Difoto sebagai dokumentasi.

3.5 Analisis Data
            Analisis data arthropoda bagian permukaan tanah diperkebunan Sawit desa Tirtakencana yaitu dengan menghitung Kepadatan (K), Kepadatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), adalah sebagai berikut :
a.       Kepadatan (K)
K =
b.       Kepadatan Relatif
KR =    x 100 %
c.       Frekuensi Relatif
FR =    x 100 %
            Data untuk melihat anthropoda di permukaan tanah pada perkebunan sawit, keanekaragaman arthropoda dipermukaan tanah dianalisis dengan indeks Shanon – weanor dengan rumus :
            Indeks menurut Shanon-Weanor
            H  = Pi In Pi
            Keterangan :
            S  = Jumlah spesies
            Pi = Jumlah individu suatu spesies perjumlahan individu seluruh spesies
            H  = Indeks diversitas


DAFTAR PUSTAKA

Andoko. 2008. Budidaya Sawit. PT Agro Media Pustaka. Jakarta.

Anwar, Chairil. 2006. Manajemen dan Teknologi Budidaya Sawit. Pusat penelitian. Medan.


Fauzi. 2004. Morfologi Kelapa Sawit. Online. http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit. Diakses 27 Mei 2012. Arthopoda. Online. http://id.wikipedia.org/wiki/Artropoda. Diakses 7 mei 2012.

Foth. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Ketaren. 1986. Hewan Tanah. Online. http://desainwebsite.net/berita/hewan-tanah#ixzz1vfR80B5G. Diakses 27 Mei 2012.

Muhammad, NS.,. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.

Risza. 1994. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.

Odum, E. P. 1996. Dasar – Dasar Ekologi. Terjemahan oleh T. Samingan. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar