Kamis, 13 Desember 2012

Metodologi Pengumpulan Data Komponen Lingkungan


TUGAS AMDAL
BAB VI
METODOLOGI PENGUMPULAN DATA KOMPONEN LINGKUNGAN

6.1. Ruang Lingkup Studi
1. Area Studi
Dalam melaksanakan  pengamatan berbagai parameter lingkungan harus ditentukan area studi. Penentuan area studi biasanya ditetapkan berdasarkan 4 pendekatan, pendekatan teknis, proyek, ekologi, pendekatan administrasi. Pada umumnya luas area dengan pendekatan proyek lebih sempit dari pada dengan pendekatan ekologis dan administrasi.
Pendekatan proyek dalam penentuan area yaitu tapak proyek atau area kegiatan pengamatan itu dilaksanakan. Pendekatan ekologis pada umumnya ditentukan atas dasar fisiologis. Pendekatan administrasi biasanya digunakan untuk mengamati parameter sosial ekonomi budaya dan kesehatan masyarakat. Penentuan area studi diatas dasar teknis biasanya ditentukan berdasarkan ketersediaan sumber daya yaitu tenaga, biaya, dan waktu yang tersedia.
2. Parameter Lingkungan
Didalam istilah AMDAL, maka lingkungan dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu ABC, Abiotik, Biotik dan Culture atau sering disebut geofisika kimia untuk abiotik, biotik untuk biotis dan sosial ekonomi budaya dan kesehatan masyarakat untuk culture.
Lingkungan dikelompokan menjadi komponen-komponen dan setiap komponen dibagi lagi menjadi parameter lingkungan, sehingga dalam studi AMDAL akan disebutkan 2 klasifikasi yaitu atas dasar komponen lingkungan dan parameter lingkungan.

6.2. Metodologi Pengumpulan Data
1. Metode Pengumpulan Data komponen Geofisika Kimia
1.        Komponen iklim, parameter komponen iklim yaitu tipe iklim, suhu, kelembaban, curah hujan, hari hujan kekuatan dan arah angin.
2.        Komponen hidrologi, parameter komponen hidrologi adalah debit air permukaan dan air tanah, sedimen, kualitas air permukaan dan air tanah, drainase limpasan (run off), infiltrasi, perlokasi dan evatranspirasi.
3.        Komponen tanah, parameter komponen tanah yaitu erodibilitas  tanah, kedalaman tanahm profil tanah, sifat kimia dan sifat fisika bakteriologis dari tanah.
4.        Udara, parameter darri komponen udara adalah arah dan kecepatan angin, cuaca, tekanan udara, penguapan dan kualitas udara.
5.        Fisiografi, Geomorfologi dan lahan, penelitian fisiografi dititik beratkan pada evaluasi bentuk penggunaan lahan dan proses sedimentasi.  Geomorfologi merupakan suatu komponen lingkungan parameternya antara lain bentuk topografi, sudut lereng, dan bekas  bencana banjir.
6.        Hidrooceanografi, merupakan ilmu yang menyangkut dua ilmu yang cakupannya luas yaitu hidrologi dan oceanografi. Pada dasarnya hidrologi dibagi menjadi empat cabang ilmu yaitu:
a.    Potamologi yaitu hidrologi yang mempelajari air dipermukaan tanah yang berupa aliran-aliran permukaan.
b.    Limnologi yaitu hidrologi yang mempelajari air didanau termasuk rawa.
c.    Geohidrologi yaitu hidrologi yang mempelajari air di bawah permukaan tanah.
d.   Kirologi yaitu hidrologi yang mempelajari salju dan es.
Sementara itu di dalam oceanografi terdapat 4 macam aspek sebagai berikut:
a.    Fisika oceanografi mempelajari sifat-sifat air laut didalam hubungannya dengan gerak air.
b.    Kimia oceanografi adalah reaksi-reaksi kimia yang terjadi didalam air laut dan didalam laut serta analisis air laut itu sendiri.
c.    Biologi oceanografi mempelajari kehidupan didalam laut.
d.   Geologi oceanografi mempelajari struktur dasar lautan dan proses yang terjadi disana termasuk terbentuknya lautan.
2. Metode pengumpulan data Komponen Biotis
1. Flora
a.    Pengertian
Semua tumbuhan baik sejenis maupun tidak sejenis (flora) yang tumbuh di suatu wilayah dan bagaimana distribusi dari masing-masing jenisnya biasanya disebut vegetasi.
  b.  Dasar-dasar Pengambilan Cuplikan (sampel)
Tujuan mengambil cuplikan adalah mendapatkan informasi dari seluruh informasi atau data dari suatu populasi.
Terdapat beberapa cara untuk menentukan cuplikan:
1.        Cuplikan Tetap. Dibuat dengan mengikuti aturan tertentu. Cuplikan ini diambil serta dibiarkan selama waktu pengamatan. Ada beberapa cara pengambilan cuplikan tetap ini yaitu cuplikan tak terbatas yang dibuat tanpa memperhatikan terlebih dahulu perbedaan kelompok yang ada. Biasanya pembuatan cuplikan tak terbatas masih dibagi lagi yaitu cara yang sederhana yaitu dengan menomori setiap tanaman yang diamati menggunakan nomor acak. Cara sistematis yaitu cuplikan ditarik dengan membuat daftar. Cuplikan terbatas dibentuk dengan membagi populasi atau daerah penelitian atas bagian-bagiannya. Cuplikan terbatas masih dibagi lagi menjadi 4 buah yaitu:
a.       Cuplikan bertingkat banyak karena keanekaragaman sifat, tempat tumbuh (topografi, iklim, tanah).
b.      Cuplikan berstrata dibuat dengan membagi populasi.
c.       Cluster sampel, ditarik dengan memilih secara random beberapa strata dan seluruh anggota dari strata terpilih dimasukkan sebagai cuplikan untuk diamati.
d.      Stratified cluster sample, cara ini merupakan golongan antara b dan c.
2.    Sguential Sample, cuplikan ditentukan secara random dan berukuran kecil, oleh karena itu dibagi 2 yaitu: cuplikan ditarik secara bertingkat dan dengan mengamati satu persatu anggota populasi.
c.    Persyaratan dalam Pembuatan Cuplikan Vegetasi
1.      Langkah dalam membuat cuplikan:
Ø  Membuat subkomunitas dari kesatuan komunitas yang ada, agar diperoleh kesatuan terkecil yang lebih seragam..
Ø  Memilih cara pencuplikan yang tepat pada masing-masing bagian.
Ø  Membuat ukuran dan bentuk cuplikan yang akan dibuat.
Ø  Menentukan parameter apa saja yang akan diukur dalam plot tersebut.
2.         Persyaratan pencuplikan
Ø  Pencuplikan harus seluas mungkin agar semua spesies yang dimiliki oleh komunitas itu dapat ditemukan.
Ø  Habitat tempat tumbuh seseragam mungkin, sehingga dengan hanya membuat satu unit pencuplikan akan dapat diperoleh informasi yang cukup representative.
Ø  Tanaman penutupnya sehomogen mungkin, dengan mendapatkan subkomunitas seragam ini maka jaminan secara statistik dapat tercapai.
Ø  Parameter yang diamati.
·         Kondisi vegetasi suatu komunitas.
·         Potensi volume / produktifitas.
·         Semua tanaman yang ada dipetak ukur diproyeksikan tajuknya kepermukaan tanah.
·         Pertumbuhan dapat diukur dari kondisi morfologi seperti daun, cabang, ranting dan warna. Anatomis dengan mengamati susunan jaringan / sel yang tidak normal. Fisologis dapat diukur dari kecepatan fotosintesis, respirasi dan aktivitas Nitrat Redukttase.
3. Cara pembuatan Petak Ukur
1.    Cara kuadrat, dapat dibuat dengan bentuk segiempat (segi panjang, bujur sangkar atau jajar genjang atau berbentuk lingkaran).
2.    Point quarter sampling, dapat dilakukan dengan menentukan 4 titik pada 4 kuadran dari titik pengamatan yang telah ditentukan.
3.    Cara cuplikan berupa jalur.
a.         Line intercept adallah untuk mengetahui jumlah persentase penutupan suatau tanaman dalam suatu komunitas.
b.        Belt transect method digunakan untuk mengetahui besar % penutupan kerapatan tanaman.
4.    Bisect atau profil, cara ini dilakukan dengan menggambar seluruh vegetasi dalam suatu komunitas.
5.    Distance method adalah suatu metoda cuplikan yang tidak menggunakan cara petak ukur, ada 4 cara pada metoda ini yaitu nearest individual method, point centered quarter method, nearest neighbor method, random pairs method.
d.        Pedoman Pengambilan Sampel Tanaman Untuk Analisis Laboratorium
1.      Dasar-dasar
Analisis tanaman dimaksudkan untuk mengetahui struktur jaringan dan isi kandungan berbagai unsur kimia baik unsure makro maupun unsur mikro selain itu untuk mengetahui tingkat / kadar pencemaran unsur logam berat yang mempengaruhi tanaman dalam suatu tempat tumbuh.
2.      Kekurangan lawan kelebihan sesuatu umur
Tanaman membutuhkan unsur hara dalam keadaan berbeda-beda. Unsur hara mikro dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit, namun unsure ini sangat menentukan pertumbuhan suatu tanaman sebab unsur hara mikro ini pada umumnya mempengaruhi terbentuknya enzim-enzim didalam tubuh tanaman.
e.         Beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam mengambil sampel tanaman.
a.         Waktu pengambilan sampel tanaman, pada umumnya untuk tanaman yang berumur pendek, sampel tanaman harus diambil pada saat tanaman berumur 1,5 bulan sampai 3 bulan.
b.        Pemilihan lokasi, area tempat tumbuh dibagi menjadi beberapa blok. Untuk mencari hubungan kualitas tumbuh dan pertumbuhan tanaman biasanya tempat tumbuhnya dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu blok tempat tumbuh baik kondisinya sedang dan jelek.
c.         Sampel tanaman
·      Tanaman pangan / musiman dan rumput, bagian tanaman yang diambil untuk sampel adalah seluruh tanaman baik bagian akar maupun bagian batangnya, dengan pertimbangan untuk mengetahui tingkat pencemaran.
·      Tanaman berupa eksplan, bagian tanaman yang diambil hanya daun-daunya saja, daun yang dipungut adalah daun yang muda yang berada pada ujung ranting.
d.   Pencucian
e.    Pengamatan struktur jaringan secara anatomis.
f.     Pengeringan dengan cara dikering anginkan, tujuanya untuk mengetahui tingkat pertumbuhan, produktivitas dan hal yang berkaitan dengan keharaan dan gangguan ekologis.
2. Fauna
1.    Fauna daratan
Dapat dilakukan dengan beberapa metoda antara lain metoda index point valle de/ abudance atau index point of abudance (IPA), metoda inventarisasi, metoda wawancara, penangkapan dan pengamatan jejak.
a.       Metode (IPA)
Untuk mencatat jenis populasi hewan dan biasanya dipergunakan untuk burung secara kuantitatif. Cara kerjanya diawali dengan menentukan tempat untuk mencatat populasi hewan secara acak masing-masing habitat yang ada. Tempatnya dapat di dalam hutan, sawah dan daerh pemukiman. Dasar data yang diperoleh dari pasangan dapat dianalisis beberapa parameternya sebagai berikut:
a.       Frekuensi, menunjukan kehadiran suatu jenis hewan di dalam nomor IPA yang dibuat semakin seringnya dicatat suatu jenis hewan tertentu menunjukkan bahwa hewan tersebut penyebarannya tinggi.
b.      Dominansi, menunjukkan nilai dominansi suatu jenis burung.
c.       Indeks kesamaan jenis adalah perbandingan antara nilai jenis burung tertentu dihabitat tertentu dibandingkan dengan habitat lain.
b.      Metode wawancara
Untuk mencatat jenis fauna yang ada di daerah penelitian. Wawancara dilakukan terhadap masyarakat yang mempunyai pengetahuuan yang cukup luas terhadap keadaan fauna di daerah rencana proyek.
c.       Metode inventarisasi
Untuk mencatat semua jenis fauna yang terdapat di daerah rencana proyek,  dengan melakukan penjelajahan keberbagai tempat yang diperkirakan potensial terdapat populasi jenis tertentu.
d.   Metode pengamatan jejak dan atau bekas kotoran hewan
Pada pengamatan jejak dan atau bekas kotoran hewan yang diamati adalah bekas jejak atau kotoran hewan di identifikasi pada titik pengamatan tertentu, sehingga dapat diketahui jenis hewannya.
2.    Fauna Perairan
1.    Jenis bentos
   Bentos makhluk hidup di perairn yang terdapat:
a.         Di permukaan dasar laut atau di dasar perairan sunggai, danau dan waduk, bentos yang hidup dipermukaan dasar  perairan disebut Epibentos atau Epifauna.
b.        Sementara itu ada pula bentos yang hidup didalam sedimen/lumpur, bentos yang demikian disebut infauna.
2.    Pengamatan terhadap Bentos
a.    Metode pengamatan, dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1. Hard substrat (remis, tiram, ganggang dalam batu karang, pasir, batu). Dilakukan:
a. Destruktive Sampling dilakukan untuk mengetahui jumlah jenis, populasi dan dibagi lagi menjadi: (a). Scraped sampling cuplikan kuadrat : pada saat air surut dilakukan pengamatan terhadapat bentos dengan pencuplikan kuadrat, dilakukan penggoresan / pembongkaran medium lumpur. (b). scraped sampling cuplikan transek : pada saat air surut dilakukan pengamatan terhadap bentos dengan pencuplikan transek, dilakukan penggoresan / penerikan medium lumpur.
b. Nondestructive sampling untuk menganalisis jumlah atau persen penutupan tanpa merusak medium tempat tumbuh bentos terdiri dari perhitungan langsung sepanjang transek, perhitungan langsung dengan cuplikan kuadrat secara acak, peemotretan organisme dalam pencuplikan kuadrat yang dibuat permanen.
c. Menentukan proses penutupan, adapun caranya yaitu : planimeter dengan DOF pattern dan substrate (dalam lumpur).
2.  Metode pencuplikan pada dasarnya metode pencuplikan ada dua yaitu :
·         Metode transek, modifikasi metode transek adalah sejajar garis pantai dan tegak lurus garis pantai.
·         Metode kuadrat, modifikasi metode kuadrat adalah bujur sangkar teratur, trapezium teratur, bujur sangkar petak tak beratur.
3. Pengamatan Plankton
Pengamatan plankton dilakukan terhadap zooplankton dan phytoplankton, pengamtan dilaksanakan dengan jarring perangkap dengan lubang yang besarnya sesuai dengan rancangan penelitian. Setelah sampel diambil dari penangkapan, segera diberi bahan pengawet (formalin) selanjutnya dianalisis dilaboratorium.
3.    Metode pengumplan data sosial ekonomi budaya kesehatan masyarakat
Setiap kegiatan pembangunan tidak hanya mempengaruhii ekosistem tetapi juga komponen sosiosistem, komponen sosiosistem yang ditelaah dalam studi AMDAL adalah demografi, sosial, ekonomi, sosial budayya dan kesehatan masyarakat. Dampak terhadap parameter lingkungan yang diteliti dan dikaji diperoleh dengan cara pelingkuppan. Respon dapat ditentukkan dengan cara random atau sistematis. Cara purposive sampling lebih baik sebab responden ditentukan dengan tujuan tertentu.

Selasa, 11 Desember 2012

Laporan Praktikum Sterilisasi


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
   Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan maupun organ , serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap (Sany 2007: 1).
   Adapun prinsip-prinsip dalam kultur jaringan sendiri kita ketahui antara lain (1). Totipotensi Sel: Setiap sel dari manapun asalnya, akan mampu tumbuh menjadi tanaman sempurna kalau diletakkan pada lingkungan yang sesuai (Scheleiden & Sachwan, 1901), (2). Regenerasi Tanaman: Proses menuju diferensiasi ke arah pembentukan organ baru, (3). Bebas Kontaminasi Mikroorganisme, dan (4). Lingkungan (media) yang sesuai dengan pertumbuhan jaringan. Dapat dilihat salah satu prinsip adalah terbebas dari kontaminasi mikroorganisme. Ini artinya kultur jaringan merupakan perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman, menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Lingkungan yang sesuai dapat dipenuhi dengan menentukan media tumbuh yang sesuai dan penempatan pada kondisi yang terkendali berkaitan dengan intensitas dan periodisitas, cahaya, temperatur, dan kelembaban serta keharusan sterilisasi  (Hendaryono & Wijayani 1994: 2).
    Sterilisasi merupakan hal yang erat dengan pembuatan medium isolasi dan pembiakan mikroorganisme secara murni. Pengertian umum sterilisisasi adalah suatu proses yang berusaha membebaskan bahan atau alat dari mikroorganisme. Namun perlu diketahui bahwa bahan atau alat yang telah melalui proses sterilisasi tidak akan benar-benar bebas dari mikroorganisme. Tujuan utama sterilisasi adalah untuk meminimalkan gangguan oleh mikroorganisme yang tidak dikehendaki (kontaminan), sekaligus meminimalkan gangguan akibat proses sterilisasi itu sendiri sekecil mungkin (Sany 2007: 1).
    Sterilisasi dalam segala kegiatan kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan pun juga harus dalam keadaan steril. Tidak hanya terbatas pada peralatan, namun ruangan yang akan digunakan pun harus dalam kondisi aseptik. Tujuan utama dari sterilisasi ruangan maupun peralatan kultur pada dasarnya untuk menghindari kontaminasi oleh mikro organisme yang ada di peralatan maupun di udara bebas sekitar ruangan. Perlakuan tersebut mutlak dilakukan terutama pada ruang penabur atau tempat yang digunakan untuk penanaman eksplan (Fardiaz 1992: 2).
         Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan kultur jaringan yaitu bahan sterilisasinya, kandungan unsur kimia dalam media, hormon yang digunakan, substansi organik yang ditambahkan dan terang atau gelapnya saat inkubasi. Dari sekian banyak permasalahan yang harus diteliti dan diperhatikan adalah komposisi media tumbuh pada kultur jaringan karena sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan serta bibit yang dihasilkannya. Teknik aseptik merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam kutur jaringan. Keaseptikan harus dijaga dalam proses pengkulturan, selain itu juga termasuk sterilisasi bahan tanaman (eksplan). Pada tahap ini dilakukan berbagai perlakuan untuk membersihkan kotoran yang ada di permukaan bahan tanaman (disinfestasi). Selain itu, zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tanaman (Daisy 1994: 4).

1.2. Tujuan
         Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari cara serta prinsip-prinsip sterilisasi alat dan bahan dalam teknik kultur jaringan tumbuhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sterilisasi merupakan  suatu proses  untuk  mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja  yang dapat tembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110-121 . Sterilisasi dalam setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikroorganisme atau usaha untuk membebaskan alat dan bahan dari segala bentuk kehidupan terutama mikrobia (Fardiaz 1992: 4).
Menurut Hamdan (2012: 11), bahwa sterilisasi dalam setiap proses yang umum dilakukan dapat berupa: (a). Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan  selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat “bejana/ruang panas” (oven dengan temperatur 170–180  dan waktu yang digunakan 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas), (b). Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin), (c).  Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba).
Autoclaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan medium kultur jaringan tumbuhan denan mengunakan tekanan 15 psi (1,02 atm) dan suhu 121°C . Sterilisasi dengan autoklaf adalah salah satu metode sterilisasi dengan uap air di bawah tekanan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media kultur jarinan tumbuhan yang disterilkan memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibandingkan dengan udara panas. Biasanya untuk mensterilkan media diunakan suhu 121°C dan tekanan 15 lb/in² (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit (Torres 1989: 1).
Menurut Yuan (2012: 2), bahwa dalam metode kultur jaringan diperlukan lingkungan yang steril. Ada beberapa metode sterilisasi alat dan bahan tanaman. Sterilisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan pembakaran, pemanasan kering, pemanasan basah, penyaringan atau secara kimiawi. Sterilisasi dengan pembakaran yaitu alat-alat yang terbuat dari logam dapat disterilkan dengan cara memanaskan atau membakar di atas lampu spirtus. Sterilisasi dengan udara panas/kering pada alat-alat dari gelas seperti cawan petri, erlenmeyer, tabung piala, botol eksplan, tabung reaksi dan sebagainya dapat disterilkan dengan udara panas (oven) pada suhu 130 – 160o C selama 1 – 2 jam. Alat-alat ditata tidak terlalu rapat agar sirkulasi udara antar tumpukan alat dapat berjalan lancar, sehingga semua alat dapat disterilkan dan dapat dengan mudah dijaga kesterilannya saat dikeluarkan dari alat sterilisasi.
Sterilisasi dengan uap panas (basah) pada bahan atau alat dapat disterilkan dengan uap panas atau secara basah pada uap panas biasa atau uap panas dengan tekanan tinggi, secara terus menerus (kontinyu) atau secara terputus putus (diskontinyu), khususnya medium pada suhu atau tekanan yang rendah. Untuk sterilisasi dengan cara ini sering kali menggunakan otoklaf. Sterilisasi medium biasanya dilakukan pada suhu 121oC dengan tekanan 1 atm selama 15-30 menit, namun untuk medium yang tidak mudah rusak dapat dilakukan pada suhu atau tekanan yang sedikit lebih tinggi. Sterilisasi dengan bahan kimia yaitu bahan kimia tertentu sering digunakan untuk sterilisasi alat maupun bahan. Etanol 70% sering digunakan untuk sterilisasi permukaan pada alat yang sering dikombinasi dengan pembakaran pada api. NOCl (natrium hipoklorit) dan formalin juga sering digunakan untuk sterilisasi permukaan atau disinfestasi permukaan atau disinfeksi permukaan (Torres 1989: 1).
Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan  tersebut bebas dari mikrobia, baik dalam bentuk vegetative ataupun spora. Suatu benda atau substansi hanya dapat dikatakan steril atau tidak steril, tidak  akan pernah mungkin ada setengah steril atau hampir steril. Untuk sterilisasi alat dan medium digunakan sterilisasi dengan mengunakan alat yang disebut autoclave. Sterilisasi dilakukan untuk membunuh bakteri dan cendawan yang melekat pada eksplan maupun pada alat serta bahan yang digunakan dalam penanaman eksplan (Fardiaz 1992: 4).
Menurut Pramono (2007: 1), bahwa metode sterilisasi alat dan bahan tanaman juga dilakukan sterilisasi dalam kegiatan  kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril,  yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril.  Sterilisasi lingkungan kerja yaitu sterilisasi yang dilakukan dalam penanaman eksplan agar mendapat tempat atau ruang yang steril dan bebas dari mikroorganisme. Tempat untuk menanam dan memindahkan eksplan yaitu disebut Laminar Air Flow. Dengan dihembuskannya aliran udara halus  dari blower melalui suatu filter HEPA (High Efficiency Particulate Air) dengan pori-pori kurang dari 0,3 µm. Fungsi aliran udara ini yaitu dapat mencegah kontaminan yang air borne selama penanaman. Sebelum bekerja, bagian dalam laminar disterilkan dengan alcohol 70% dan diratakan dengan tissue, kemudian dilanjutkan dengan menyalakan lampu UV selama 0,5-1 jam untuk mematikan kontaminan di permukaan tempat kerja.
Sterilisasi alat dan media dilakukan pada alat-alat seperti botol, erlenmeyer, beaker glass, petridish, pinset, scalpel, gunting, jarum ose, dll sebaiknya sebelum disterilisasi peralatan dicuci denga detergen kemudian dibilas dengan aquades dan dikeringkan. Kemudian dibungkus dengan kertas merang. Temperatur yang digunakan untuk sterilasasi alat-alat dengan autoclave 121°C pada tekanan 17,5 psi selama 20-30 menit. Sterlisasi bahan tanam yaitu bahan tanam yang ada dilapangan banyak mengandung debu, kotoran-kotoran dan berbagai kontaminan hidup pada permukaan. Apabila kontaminan ini tidak dihilangkan maka media yang mengandung gula, vitamin, dan mineral merupakan sumber energy bagi kontaminan yang ada. Prinsip sterilasasi eksplan adalah dapat mematikan kontminan tanpa membunuh eksplan, karena baik kontaminan maupun eksplan merupakan benda hidup. Berhasilnya teknik sterilsasi merupakan langkah awal keberhasilan dalam kerja kultur in vitro (Hadioetomo 1993: 1).






BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 06 November  2012 pada pukul 09.00 s/d selesai. Bertempat di Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Sriwijaya Indralaya.

3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah aluminium foil, autoklaf, botol kultur, erlenmeyer, gunting kultur, kertas pembungkus, lampu bunsen, petridish, pinset dan scapel, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah  aquades dan medium.

3.3. Cara Kerja
    Disiapkan alat-alat yang berupa aluminium foil, Erlenmeyer, gunting, petridish, pinset tetes, scapel kemudian  dibungkus dengan kertas pembungkus. Botol kultur ditutup dengan aluminium foil. Sedangkan bahan-bahan berupa aquades dan medium disterilisasikan dengan cara dimasukkan dalam botol lalu ditutup dengan aluminium foil. Disterilisasi alat dan bahan dengan autoklaf pada suhu 121°C dengan tekanan 15 psi selama 20-30 menit.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.  Hasil
Berdasarkan praktikum didapatkan hasil sebagai berikut :
No.
Nama Alat
Gambar
Keterangan
1.
Autoklaf







Autoklaf adalah alat sterilisasi untuk alat dan medium kultur jaringan. Suhunya 121oC, tekanan uap 15 selama 15 menit
2.
Magnetic Stirer







Magnetic  stirer memiliki fungsi untuk menggojok dengan pemanas. Dengan                       menggunakan listrik, alat ini berfungsi sebagai kompor selain digunakan  sebagai penggojok.
3.
Elenmeyer

 








Alat ini digunakan dalam kultur jaringan tanaman sebagai sarana menuangkan air suling maupun untuk tempat media dan penanaman eksplan.


4.
Gelas ukur







Gelas ukur digunakan untuk menakar air suling dan bahan kimia yang akan digunakan.
5.
Pipet tetes






Pipet tetes digunakan untuk mengambil supernatan (larutan) protoplas atau untuk menambahkan KOH, HCL, menetralkan pH.
6.
Botol kultur







Botol ini digunakan untuk tempat menanam eksplan
7.
Gelas piala

 








Alat ini digunakan untuk menuangkan atau mempersiapkan bahan kimia dan air suling dalam pembuatan medium


8.
Gunting kultur

 







Alat ini digunakan untuk mengiris bagian tanaman atau eksplan.






9.
Aluminium foil







Aluminium foil berfungsi untuk menutup botol kultur.

10.
Pinset





Pinset digunakan untuk memegang atau mengambil irisan eksplan atau untuk menanam eksplan
11.
Cawan petri




Alat ini digunakan untuk tempat eksplan




12.
Scalpel

 








Alat ini digunakan untuk mengiris bahan isolasi protoplas
13.
Kertas Pembungkus







Kertas digunakan untuk membungkus alat-alat yang akan di sterilisasi











4.2. Pembahasan
       Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan diketahui beberapa alat-alat seperti erlenmeyer, pipet tetes, pinset, disseting set, gunting, magnetic stirer, scaple, botol kultur dan lain-lain. Dari alat-alat yang mempunyai fungsi dan cara pemakaian yang berbeda, namun disterilisasikan bersama menggunakan autoklaf. Sterilisasi adalah segala kegiatan dalam kultur jaringan yang sangat penting dan harus dilakukan ditempat yang steril, yaitu di laminar flow. Seperti yang diungkapkan Wetherell (1976: 1), bahwa lingkungan aseptic sebagai salah satu syarat utama suksesnya kegiatan kultur jaringan perlu diterapkan dengan sungguh-sungguh. Untuk itu perlu adanya usaha sterilisasi peralatan dan media yang akan digunakan dalam proses kultur agar bebas dari mikroba.
   Sterilisasi secara umum terdiri dari sterilisasi fisika, sterilisasi kimia dan sterilisasi modifide yaitu gabungan antara sterilisasi fisika dan kimia. Menurut Yuan (2012: 2), bahwa ada beberapa metode sterilisasi alat dan bahan tanaman yang dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan pembakaran, pemanasan kering, pemanasan basah, penyaringan atau secara kimiawi. Sterilisasi alat dan bahan tanaman juga dilakukan sterilisasi dalam kegiatan  kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, dan menggunakan alat-alat yang juga steril yaitu sterilisasi lingkungan kerja, sterilisasi alat dan media dan sterlisasi bahan tanam.
  Jenis sterilisasi yang baik digunakan adalah sterilisasi menggunakan autoklaf.         Autoklaf yaitu alat yang berfungsi untuk sterilisasi dengan uap panas bertekanan. Autoklaf dipakai untuk sterilisasi medium atau larutan atau alat-alat yang tidak tahan suhu tinggi. Prinsip kerjanya yaitu mensterilkan dengan bantuan uap. Menurut Wetherell (1976: 1), dalam waktu 10-15 menit hampir semua sel-sel mikroba dapat terbunuh oleh uap air yang sangat panas. Untuk mensterilisasi alat-alat dibutuhkan suhu uap air 250 oF (121°C) dalam waktu 15 menit. Untuk menaikkan suhu yang lebih tinggi dari titik didih tersebut yaitu dengan menaikkan tekanan uap air. Sedangkan menurut Estuningsih (2012: 1 ), jika panas digunakan bersama-sama dengan uap air disebut sterilisasi basah mengggunakan autoklaf, sedangkan jika tanpa uap air disebut sterilisasi kering menggunakan oven. Pada praktikum yang dilakukan hanya menggunakan sterilisasi basah yaitu menggunakan autoklaf.
  Percobaan sterilisasi kultur jaringan dilakukan dengan baik, kita bisa membuat kisaran konsentrasi dan waktu yang diperlukan untuk sterilisasi dengan rentang yang cukup lebar. Jika dengan konsentrasi tertentu tidak terkontaminasi tetapi eksplannya mati, berarti konsentrasinya harus diturunkan. Begitu juga sebaliknya, jika masih banyak kontaminannya, konsentrasi bahan harus dinaikkan supaya tidak terkontaminasi lagi. Sama juga halnya dengan waktu yang diperlukan untuk  sterilisasi. Jika masih banyak kontaminasi, berarti proses sterilisasi harus lebih lama. Jika kita telah berhasil mendapatkan satu kultur jaringan saja yang bebas kontaminan, maka kita dapat memperbanyaknya dalam jumlah banyak.
    Fungsi alat yang disterilisasikan adalah untuk menghindari adanya mikroorganisme yang masih terbawa oleh alat-alat yang akan digunakan, karena adanya mikroorganisme menyebabkan kontaminasi bahkan dapat menumbuh kembangkan bakteri yang belum benar-benar steril. Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan  tersebut bebas dari mikrobia, baik dalam bentuk vegetative ataupun spora. Suatu benda atau substansi hanya dapat dikatakan steril atau tidak steril, tidak  akan pernah mungkin ada setengah steril atau hampir steril. Untuk sterilisasi alat dan medium juga digunakan sterilisasi dengan mengunakan alat yang disebut autoclave. Sterilisasi dilakukan untuk membunuh bakteri dan cendawan yang melekat pada eksplan maupun pada alat serta bahan yang digunakan dalam penanaman eksplan (Fardiaz 1992: 4).
    Labu erlenmeyer berfungsi sebagai tempat penyimpanan medium, memanaskan larutan, dan menampung hasil dari penyaringan. Di dalam kultur jaringan aluminium foil berfungsi untuk menutup botol kultur. Pipet tetes fungsinya sama dengan pipet ukur yaitu digunakan untuk memindahkan suatu cairan atau larutan, namun volume yang dipindahkan tidak diketahui. Lampu bunsen salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar spiritus. Alat-alat ini dapat disterilisasikan dengan dibungkus aluminium foil, lalu disterilisasi dengan menggunakan autoklaf.
BAB V
KESIMPULAN
                  Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.        Sterilisasi alat dilakukan pada alat-alat seperti botol, erlenmeyer, beaker glass, petridish, pinset, scalpel, gunting, jarum ose, dll sebaiknya sebelum disterilisasi peralatan dicuci denga detergen kemudian dibilas dengan aquades dan dikeringkan. Kemudian dibungkus dengan kertas merang dan dimsukkan ke dalam autoklaf.
2.        Temperatur yang digunakan untuk sterilasasi alat-alat dengan autoclave 121°C pada tekanan 15 psi selama 20-30 menit.
3.        Fungsi sterilisasikan adalah untuk menghindari adanya mikroorganisme yang masih terbawa oleh alat-alat yang akan digunakan, karena adanya mikroorganisme menyebabkan kontaminasi bahkan dapat menumbuh kembangkan bakteri yang belum benar-benar steril.
4.        Segala peralatan yang digunakan dalam kultur jaringan harus dalam keadaan steril melalui proses sterilisasi.
5.        Sterilisasi adalah membebaskan bahan dari semua mikroba. Cara sterilisasi terdapat kesamaan seperti pada oven dan autoclave. Hanya saja yang menjadi perbedaan yaitu metode penggunaannya.

  
DAFTAR PUSTAKA
Daisy. 1994. Laporan Kultur Jaringan. http://blogspot.com/2012/02/laporan-kultur-jaringan-pembuatan-media_822.html. 1 ± 2 diakses pada tanggal 8 November 2012.


Hadioetomo, R.S. 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. PT.Gramedia: Jakarta. 237 hal.

Hamdan. 2012. Laporan Kultur Jaringan Sterilisasi Alat. http://hamdan-maruli.blogspot.com/2012/02/lap-kultur-jaringan-sterilisasi-alat.html. 1 ± 2 diakses pada tanggal 8 November 2012.

Hendaryono & wijayani. 2002. Media Kultur Jaringan. http://kultur-jaringan. blogspot.com/2009/08/media-kultur-jaringan.html. 1 ± 2 diakses pada tanggal 8 November 2012.

Sany. 2007. Pembiakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan. Jakarta: Gramedia. 213 hal.

Pramono. 2007. Sterilisasi dalam Kultur Jaringan. http://sterilisasi-dalam-kultur-jaringan.blogspost.com/2012/09/kultur-jaringan.html. 1 ± 2 diakses pada tanggal 8 November 2012.

Yuan. 2012. Kultur Jaringan Sterilisasi. http://yuangaknekoneko.blogspot.com/2012/03/kultur-jaringan-sterilisasi.html. 1 ± 2 diakses pada tanggal 8 November 2012.
Wetherell, dkk. 1976. Biologi. Jakarta: Erlangga. 211 hal.